Ketentuan Aqiqah Menurut Islam

Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai kelompok etnis dan juga menciptakan semua makhluk di dunia ini hanya untuk menyembahnya (baca tujuan hidup menurut Islam dan sifat ciptaan manusia). Sebagai Muslim kita tentu tahu bahwa setiap anak yang dilahirkan adalah hadiah dari Allah SWT dan bahwa rasa terima kasih dan kompensasi untuk kelahiran putra atau putri kita adalah pembuatan aqiqah atau penyembelihan hewan.
Artikel Terkait : Waheedbaly.com

Karena itu orang tua yang memiliki anak harus bermain aqiqah dengan tujuan berterima kasih atas rahmat Tuhan dan mewujudkan sunnah Nabi Muhammad. Namun, tahukah kita bagaimana prosedur dan ketentuan aqiqah dalam Islam? Untuk mengetahuinya, simak uraian berikut. (baca prosedur pengorbanan Idul Adha dan Qurban dan Aqiqah dalam Islam)

Definisi Aqiqah

Dalam bahasa Arab kata aqiqah berarti memotong tetapi aqiqah sering diartikan sebagai hewan yang disembelih. Selain itu, beberapa ulama juga menafsirkan aqiqah sebagai proses mencukur rambut bayi yang baru lahir pada hari ketujuh, keempat belas atau dua puluh satu hari setelah kelahiran.

Pada dasarnya, berdasarkan istilah tersebut, aqiqah adalah penyembelihan hewan yang biasanya dilakukan setelah kelahiran bayi baru atau ketika rambut dicukur untuk pertama kalinya hari ketujuh, empat belas atau dua puluh satu. Hewan yang disembelih saat aqiqah adalah kambing, jika seorang anak harus diganti dengan dua kambing sedangkan untuk aqiqah, hanya bayi kambing. (Baca mendidik anak sejak usia dini dan cara mendidik anak menurut Islam)

Hukum dasar Aqiqah

Seperti sunnah atau nasihat nabi Muhammad harus melakukan aqiqah, meskipun aqiqah hanya untuk mereka yang mampu menyembelih hewan aqiqah, yaitu kambing.

Dengan kata lain, aqiqah harus dilakukan bagi mereka yang mampu melakukannya, sedangkan jika mereka tidak bisa membantai hewan aqiqah karena mereka tidak memiliki kekayaan, maka hukumnya adalah sunnah (baca harta dalam Islam dan zakat maal). Berikut ini adalah beberapa argumen dari hadits Nabi Muhammad yang menjadi dasar hukum atau dasar pelaksanaan aqiqah.

Dari Samurah bin Jundab berkata: Rasulullah berkata: “Semua anak kecil digadaikan dengan aqiqah mereka yang pada hari ketujuh disembelih oleh binatang (kambing), diberi nama dan dicukur rambut mereka”. [HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Anak-anak itu didestrianisasi (ditahan) dengan aqiqah mereka, mereka menyembelih binatang untuknya pada hari ketujuh, mencukur rambut mereka dan diberi nama. “[HR Ahmad]

Dari Aisha berkata: Rasulullah berkata: “Diaqiqahi anak laki-laki dengan dua kambing yang sama dan gadis kecil seekor kambing”. [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah]

Dari Salman bin “Amir Ad-Dhabiy, berkata: Rasululloh berkata:” Aqiqah dieksekusi karena kelahiran seorang anak, jadi dia menyembelih seekor binatang dan menghilangkan semua gangguan dari sana. “[Sejarah Hadis Bukhari]

Dari “Aisyah RA, ia berkata,” Rasulullah SAW memiliki aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke 7 kelahirannya, memberi nama dan memerintahkan agar kotoran dikeluarkan dari kepalanya (dicukur) “. [HR. Hakim, di AI -Mustadrak juz 4, halaman 264]

Dari Fatimah Binti Muhammad ketika dia melahirkan Hasan, dia berkata: Utusan Allah berkata: “Untuk mencukur rambutmu dan memberi sedekah perak kepada orang miskin seberat sisiknya”. [HR Ahmad, Thabrani dan al-Baihaqi]

Ketentuan aqiqah

Dalam menerapkan aqiqah ada beberapa ketentuan yang harus sesuai dengan hukum agama Islam karena aqiqah itu sendiri menggantikan dirinya sendiri atau bayi yang baru lahir karena digadaikan. Berikut ini adalah ketentuan tentang implementasi aqiqah yang harus diketahui oleh umat Islam:

Diadakan pada hari ke 7, 14 atau 21
Seperti disebutkan di atas, aqiqah atau menyembelih hewan untuk menggantikan bayi harus dilakukan pada hari ketujuh, keempat belas dan dua puluh satu, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut

Dari Abu Buraidah r.a.: Aqiqah terbunuh pada hari ketujuh, keempat belas, atau kedua puluh. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Jumlah hewan Aqiqah

Pria dan wanita memang makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, tetapi ada perbedaan antara mereka dan selama pelaksanaan aqiqah. Pengaturan aqiqah dalam Islam adalah bahwa jika anak laki-laki lahir, jumlah kambing yang disembelih akan menjadi dua, sedangkan untuk perempuan, orang tua hanya perlu menyembelih hewan aqiqah. Hai, ini konsisten dengan ramalan nabi Muhammad (baca gadis-gadis dalam Islam dan cara menghafal Juz Amma dengan cepat untuk anak-anak)

Dari “Amr bin Syu’aib dari ayahnya, kakeknya, Rasulullah berkata:

“Siapa pun dari kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi, maka dia harus melakukannya untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan kambing.” [Disebut oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad] …

Jenis Hewan

Hewan-hewan yang disembelih pada saat aqiqah adalah kambing atau domba yang tidak melihat kambing atau betina yang bisa disembelih sebagai hewan aqiqah. Sebagai Utusan Allah (saw) dalam hadits berikut, mereka adalah hewan yang disembelih.

Berkata dari Aisyah, yang berarti: “Nabi memerintahkan mereka untuk mengorbankan aqiqah dua anak domba dan seorang anak perempuan” (kisah Atih Tirmidzi)

Hindari mencukur rambut Anda

Ketika Aqiqah tampil pada hari ketujuh, keempat belas atau dua puluh satu, anak itu juga harus mencukur rambutnya dan menamainya. Ini telah banyak dilakukan oleh komunitas Muslim khususnya di Indonesia. Sebagai seorang Muslim ia harus memberi anak nama yang baik dan mencukur rambutnya sesuai dengan Utusan Allah sehingga anak itu dapat tumbuh menjadi anak yang baik atau seorang sholehah. (Baca juga karakteristik istri Shalehah)

Dibagikan setelah memasak

Berbeda dengan festival Adha Idul Fitri, di mana daging kurban didistribusikan sebagai daging mentah, daging hewan dari Aqiqah harus dimasak dan diberikan kepada negara dewasa. Daging yang dimasak kemudian dapat diberikan kepada mereka yang memiliki hak dan terkait dengan saudara atau tetangga. Ini disebutkan dalam hadits berikut (baca makanan halal menurut Islam dan makanan ilegal menurut Islam)